IMPARTASI MENTOR BUKAN SUPERIOR !
Ketika seorang murid mendahului mentornya, hal itu tidak berarti bahwa ia lebih unggul (Superior) daripada mentornya.
Perbandingan seperti ini tidak sehat & sebisa mungkin harus dihindari.
Realitasnya adalah bahwa baik murid maupun mentornya akan bertumbuh hingga ke tingkat kasih karunia & kedewasaan mereka di dalam pelayanan.
Murid mendapatkan manfaat dari masukan mentornya yang mungkin mentornya sendiri tidak mendapatkannya.
Sesungguhnya ketika seorang murid bertumbuh sampai ke tingkat kedewasaannya sendiri, ia tidak hanya membawa posisinya sendiri, tetapi juga sampai tingkat tertentu, membawa posisi mentornya.
Seorang murid akan naik sesuai dengan tingkat panggilan-Nya & kasih karunia-Nya, bukan menurut pelatihan & pementoran yang diterimanya.
Posisi mentor membawa kasih karunia impartasi. Ia mengimpartasikan karunia spiritual, kasih karunia & roh ke dalam pelayanan muridnya.
Roh yang dibangun di dalam diri mentor mempunyai sifat dapat ditransfer. Terkadang hal ini dilakukan dengan menumpangkan tangan (keimanan), terkadang dengan mengurapi dengan minyak.
Samuel, hakim Israel yang terakhir mengimpartasikan roh otoritasnya kepada Saul dengan mengurapinya dengan minyak.
Saul di urapi untuk menjadi penguasa warisan Allah (1 Sam 10 : 1).
Setelah di urapi, Roh Allah masuk ke dalam dirinya & ia pun bernubuat.
Saul menjadi seorang yang berubah (1 Sam 10 : 6). Ia menerima roh impartasi dari Samuel.
Pada waktu Petrus & Yohanes berada di Samaria, mereka menumpangkan tangan ke atas murid2 & mereka pun menerima kuasa Roh Kudus. (Kis 8 : 14 - 17)
Dengan cara yang sama, ketika Paulus menumpangkan tangan ke atas murid-murid di Efesus, mereka pun menerima kuasa Roh Kudus. (Kis 19:6).
Timotius menerima impartasi karunia Roh ketika para tua tua bernubuat & menumpangkan tangan ke atasnya (1 Timotius 4:14).
Melalui impartasi, mentor dapat mengimpartasikan posisi, otoritas serta imannya kedalam roh muridnya.
2016-02-10 09:29:27
|
525
|
0
| Tags : BUKAN SUPERIOR |














Commentar